Ingin Jadi Agen Pusla ?....Klik di Sini !

Hallooo....Kawan Selamat Datang di Blog Kami!

SCRIPT CHATTING DI SINI
[+] [x]

Minggu, 19 September 2010

Home » » Penumpang Melonjak

Penumpang Melonjak


Setelah saya renungkan sekian lama sesudah Lebaran ini berlalu, ternyata berita-berita tentang mudik telah menipu saya, terutama mengenai penumpang bus di terminal dan kereta api di stasiun.

Hampir semua berita yang disiarkan surat kabar, televisi, dan radio bahkan berita daring (dalam jaringan = online) di internet, sangat sering menggunakan kata "melonjak" dan "menumpuk". Setiap tahun ketika masanya orang mudik Lebaran istilah ini sangat populer.

Para wartawan mengatakan penumpang bus di terminal Pulogadung pada H-3 melonjak 10 persen dibanding tahun yang lalu. Tiap tahun penumpang itu melonjak 10 persen, artinya tahun yang lalu penumpang itu melonjak 10 persen dan tahun ini pun melonjak 10 persen lagi dibandingkan dari tahun yang lalu. Bisa dibayangkan, setiap tahun penumpang yang mudik Lebaran itu melonjak makin tinggi saja. Untuk apa mereka melonjak?


Cobalah Anda pergi ke terminal Pulogadung. Di sana Anda akan ternganga-nganga keheranan, sebab para penumpang yang naik bus itu ternyata tidak melonjak. Mereka semuanya duduk tenang-tenang saja di dalam bus dan gerbong kereta. Mereka tidak melonjak, apalagi melonjak-lonjak. Paling-paling loyo kepanasan karena sumpek dalam ruangan sempit atau karena kecapaian.

Saya semakin bingung, sebab rupa-rupanya yang dimaksudkan dengan "melonjak" sama artinya dengan meningkat. Lalu, apanya yang meningkat? Penumpang mau meningkat ke mana? Mungkin yang dimaksud adalah jumlah penumpangnya yang meningkat, tetapi kata meningkat tidak sama dengan melonjak. Kalau melonjak itu disebut pengandaian atau metafora, maka pengandaian ini menurut saya sudah menyimpang dari nalar.

Melonjak adalah gerakan menaikkan tubuh ke atas dengan menggunakan dua kaki secara bersamaan sebagai tumpuan. Jadi, misalnya kedua tangan Anda tidak dapat menggapai sesuatu yang tergantung di langit-langit rumah, Anda perlu suatu gerakan melonjak supaya sesuatu itu dapat Anda raih.

Kata melonjak sebenarnya sama artinya dengan meloncat sebab gerakan ini menggunakan kedua kaki untuk melepaskan diri dari pijakan atau melambung ke udara. Yang membedakan, melonjak adalah gerak dari bawah ke atas, sedangkan meloncat biasanya dilakukan dari atas ke bawah. Gerakan meloncat dan melonjak dalam kasus ini hanya dalam pengertian yang dilakukan oleh manusia. Kutu dan kodok walaupun meloncat, lain lagi ceritanya sebab mereka tidak mudik.

Dalam kasus ini saya tidak membicarakan soal kata "melompat" sebab tidak pernah digunakan oleh wartawan peliput berita di stasiun dan di terminal bus. Padahal, gerakan melompat inilah justru yang banyak dilakukan oleh para pemudik.

Di Pulogadung, saya tidak melihat penumpang mudik itu melonjak ketika hendak meletakkan barang bawaannya di atas bus. Buat apa melonjak, sebab semuanya sudah terukur. Waktu naik bus pun mereka tidak melonjak, karena ada sudah tangga untuk berpijak. Paling-paling yang terlihat, mereka berdesak-desakan naik lewat satu pintu supaya dapat tempat duduk. Setelah melompat, mereka bergelantungan di jendela kereta api.

Penumpukan

Coba perhatikan siaran berita di televisi. Penyiarnya dengan lantang mengatakan telah terjadi penumpukan bus di dermaga Merak (Banten) dan Bakauheni (Lampung). Padahal ketika gambarnya ditayangkan, tak terlihat sedikit pun penumpukan di dua dermaga itu. Semua kendaraan berjejer-jejer teratur atau tidak teratur memadati pelabuhan, tetapi tidak menumpuk.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), "menumpuk" adalah menaruh sesuatu bersusun-susun, menimbun atau melonggokkan. Jadi, manalah mungkin polisi atau petugas bisa menumpuk bus-bus itu di pelabuhan.

Di pelabuhan Tanjungpriok, penumpukan itu memang terlihat dengan jelas setiap hari. Yang menumpuk di situ bukan kendaraan mudik tetapi peti kemas. Peti kemas ini kalau tidak ditumpuk-tumpuk akan memakan tempat, sebab luas dermaga tidak sebanding dengan jumlah peti kemas.

Dulu, kita kenal kata "jubel" dan "berjubel-jubel". Artinya penuh sesak, dan bisa menggantikan kata menumpuk dan melonjak. Tetapi, kata ini mungkin sudah menjadi mayat karena mati,
tidak digunakan lagi. Jadi, bus dan kendaraan pribadi berjubel-jubel memadati terminal pelabuhan Merak.

Penggunaan istilah yang tidak tepat sering membingungkan, dan karena itu ada kesan
bahwa wartawan media massa itu sebenarnya bukan menyiarkan berita, mereka sedang menipu kita.

 Saya berharap kepada siapapun yang ingin menyampaikan informasi dalam bentuk kalimat atau wacana hendaknya memperhatikan penggunaan makna kata dan juga pedoman penulisan kata ,setidak-tidaknya mengacu kepada pedoman yang sekarang digunakan yaitu KBBI agar tidak terjagi penyimpangan ataupun kesalahan bahasa .Jika hal tersebut terus berlanjut dibiarkan makan akan muncul kesalahan -kesalahan baru yang akan merusak bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ,bahasa persatuian dan juga bahasa pengantar Iptek .

Tidak ada komentar:

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service