Ingin Jadi Agen Pusla ?....Klik di Sini !

Hallooo....Kawan Selamat Datang di Blog Kami!

SCRIPT CHATTING DI SINI
[+] [x]

Senin, 11 Oktober 2010

Home » » Kajian Kritis “Guru Introspeksi Guru BERMUTU"

Kajian Kritis “Guru Introspeksi Guru BERMUTU"

Ilustrasi
Guru  yang memiliki pengalaman bekerja dua puluh lima tahun atau lebih layaknya harus mulai berfantasi setelah merefleksikan diri. Refleksi yang dilakukan terkait dengan hasil pembelajaran yang  sudah menjelma menjadi tatanan sekelompok individu, budaya, adat istiadat bahkan menjadi sebuah kamunitas profesi. Sekelompok politisi yang berebut kue refromasi salah satunya adalah produk guru. Sekelompok jendral yang saling mengacungkan pistol berhadap hadapan adalah anak-anak bangsa yang sekian puluh tahun lalu pernah menjadi asuhan para guru. Gayus H. Tambunan  pun pernah belajar dari seorang guru. Jangan lupakan pula bahwa para perampok, penculik, pengedar narkoba, yang kini tengah meringkuk di lembaga pemasyarakatan merupakan anak-anak bangsa sebagai produk pendidikan.(Nurali :2010)

Harus tidak memungkiri diri bahwa mereka adalah poduk guru, meskipun yang menjebloskan mereka ke penjara juga anak-anak bangsa hasil didikan guru. Pada dua fenomena tersebut guru telah menghasilkan manusia-manusia yang memiliki martabat, ada pula manusia yang kehilangan martabat. Baik manusia yang bermartabat maupun tidak bermartabat dihasilkan melalui proses panjang. Proses panjang tersebut boleh jadi terangkum dalam prosedur standar yang telah dimiliki oleh para guru. Adakah file-file prosedur tersebut masih tersimpan dalam benak  para guru?
Bila file-file tersebut masih bisa dibaca ulang, telah tiba saatnya berfantasi membangun sisi-sisi  dari file buruk yang pernah dilakukan. Fantasi-fantasi tersebut harus dibangun dari sejumlah kesadaran atas lakuan salah yang telah terimplementasikan oleh guru terhadap para peserta didik. Lebih baik lagi bila lakuan salah bisa diverifikasi penyebabnya, prosesnya, berikut akibat-akibatnya. Verifikasi lakuan salah akan menjadi pondasi yang kuat dalam membangun pembelajaran baru sehingga menghasilkan lebih banyak manusia yang bermartabat.

Kajian Kritis
Mengutip pendapat  Dodi Sukmayadi (2009) dalam paparan BERMUTU, disebutkan bahwa kajian kritis adalah kegiatan membaca, menelaah/menganalisis suatu bacaan/artikel untuk memperoleh ide-ide, penjelasan data pendukung yang mendukung pokok pikiran utama serta memberikan komentar terhadap isi bacaan secara keseluruhan dari sudut pandang pengkaji. Pendapat tersebut menyarankan agar setiap mendapatkan informasi, tidak diterima mentah-mentah tanpa adanya proses mempertanyakan keabsahan informasi yang diterima. Tujuan yang diharapkan agar tidak mudah dikelabuhi, dijerumuskan dengan informasi yang salah. Apalagi bila informasi tersebut benar-benar bertujuan menjerumuskan penerima informasi yang tidak tanggap situasi.
Kajian kritis ternyata tidak hanya ditujukan terhadap teori, tetapi juga terapannya . Pada  konteks terapan, kajian kritis dapat juga dilakukan oleh para guru terhadap lakuannya pada masa lalu. Kajian-kajian tersebut dapat dimunculkan dalam sederetan pertanyaan panjang atas lakuan guru : sudahkah setiap guru (baca saya) menanamkan kedisiplinan terhadap peserta didik pada saat pembelajaran, sudahkah setiap guru menanamkan perasaan kebangsaan pada setiap proses pembelajaran, apakah pembelajaran yang dilakukan telah memberikan teladan tentang konsep toleransi, hormat menghormati, sopan santun, hidup bersama dalam satu komunitas, sudahkah guru melaksanakan proses pembelajaran secara jujur, adil, penuh kasih sayang serta melaksanakan pekerjaan secara ikhlas.( Case Study ,BBM Bermutu : 2009 )
Secara substansi materi, apakah semua konsep yang diberikan kepada peseta didik merupakan konsep materi yang benar. Apakah materi tersebut telah disajikan secara implementatif sehingga memberikan life skill pada peserta didik. Apakah juga dalam setiap sajian materi telah dikaitkan secara langsung dengan perasaan religiositas peserta didik, sehingga setiap pengetahuan yang diterima adalah bagian dari karya Tuhan yang Maha Agung.(Pendidikan Karakter,Depdiknas :2009)
Pertanyaan-pertanyaan pemandu refleksi atas kajian kritis tersebut akan menghasilkan sejumlah jawaban pula. Jawaban-jawaban yang didapat, apakah positif atau negatif merupakan kunci pembuka atas penyadaran diri para guru bahwa pekerjaan belum sempurna, masih ada yang tersisa dari proses yang telah dilakukan. Kesimpulannya adalah, membenahi setiap proses yang telah dilakukan yang masih mengandung sejumlah kesalahan. Selain itu juga menata rangkaian proses yang mungkin masih berserak sehingga tidak menggambarkan rangkaian yang utuh.
Hasil kajian kritis yang berbentuk sejumlah kesalahan proses yang dilakukan oleh guru seyogyanya diinformasikan kepada guru lain, agar fantasi dalam menciptakan sistem yang baru dapat berjalan secara simultan. Sejumlah kesalahan kelompok tidak akan tereleminasi bila hanya dilakukan oleh individu bagian dari kelompok itu sendiri. Apalagi bila sekelompok besar acuh tak acuh menerima hasil refleksi atas kesalahan kolektif yang ada.
Pada kondisi keberterimaan yang tidak bulat inilah sering memunculkan persoalan. Sejumlah sebutan akan muncul, yang pahlawan kesiangan lah, cari penyakit lah, cari muka, dan sejumlah ungkapan sinis yang lain. Fenomena tersebut menuntut konsistensi guru  secara kesatria menyebut diri salah, untuk kemudian diperbaiki. Sepanjang  penyadaran atas kesalahan dilakukan secara jujur untuk kebaikan anak bangsa rasanya tidak ada yang perlu ditakutkan. Tidak ada yang harus diragukan.
Guru, Introspeksi
Berbicara penyadaran atas kesalahan yang sering menyulut stigma buruk prestise seseorang ini,  Para guru perlu melakukan introspeksi secara menyeluruh terhadap pelaksanaan tugas dan tanggung jawab mendidik dan mencerdaskan anak-anak bangsa.Hal ini yang pada umumnya belum disadari oleh para guru .Mungkin karena keterbatasan kemampuan ,kesempatan ,ketersediaan sarana serta komitmen yang dimiliki sehingga masih sering mengabaikan prinsip-prinsip yang harus dilaksanakan agar tujuan pendidikan tercapai.
Pada tataran itulah sebenarnya para guru harus belajar. Belajar melaksanakan yang benar meskipun mendapatkan tantangan di mana-mana. Sekelompok orang menilai sebuah ide selalu sarat dengan kepentingan. Selama ide tersebut bersumber data dan fakta yang jelas kemudian dimunculkan solusi yang tepat, selayaknya tidak perlu ragu untuk merealisasikannya.
Para guru yang menyadari kesalahan kemudian berupaya untuk memperbaiki adalah sebuah langkah tepat di masa-masa yang akan datang. Tanpa adanya kesadaran diri untuk berubah maka sebaik apapun sebuah program tidak akan memiliki makna apa-apa. Sebaliknya sekecil apa pun sebuah perubahan jika dilakukan maka akan mendapatkan nilai positif.
Kebenaran ide yang direalisasikan akan teruji oleh zaman. Selama proses berlangsung, hasil tentu belum diketahui. Pada proses pembelajaran, mungkin dua puluh tahun lagi baru terlihat hasilnya. Biarlah nanti zaman yang akan menilai keberhasilan ataupun kegagalan yang telah dilakukan. Para guru harus berbuat sesuatu untuk kebaikan peserta didik kelak, apabila konsep berbuat sesuatu tersebut disadari atas kesalahan yang telah dilakukan pada masa lampau.

BERMUTU
Membuat sebuah perubahan mudah untuk dilakukan. Perubahan bisa dilakukan segala bidang kehidupan. Yang perlu dipertanyakan, untuk apa perubahan tersebut dilakukan. Selain itu, adakah landas tumpu dalam melakukan perubahan. Perubahan yang dilakukan secara tiba-tiba pasti mengundang kontroversi. Apabila pelaku perubahan tidak kuat menghadapi kontroversi yang muncul bisa jadi perubahan yang akan dilakukan layu sebelum berkembang.
Oleh karena itulah diperlukan “starting poin”, batu loncatan dalam melalukan perubahan( Nurali:2010). Lebih baik lagi apabila “starting poin” tersebut berupa program, atau kebijakan pemerintah yang berkekuatan hukum secara pasti. Pijakan yang memiliki legalitas tentu akan mendapatkan dukungan banyak pihak. Adanya dukungan banyak pihak akan memudahkan proses yang akan dilangsungkan. Dukungan tersebut akan menetralkan kondisi dari yang dianggap aneh menjadi biasa. Kekuatan hukum juga akan menawarkan bisa-bisa kecemburuan yang akan menghadang pelaksanaan perubahan.
Pada saatnya dibutuhkan batu loncatan, inilah “ Program BERMUTU (better education through reformed managing universal teacher upgrading)”  atau reformasi kompetensi guru berkelanjutan, dihadirkan Pemerintah dalam rangka mengubah paradigma proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh para guru. BERMUTU menyajikan sejumlah program yang menuntun guru ke arah perbaikan kompetensi diri  dalam mengelola proses pembelajaran.
Program-program tersebut semuanya memberi bekal substansi materi maupun strategi dalam meng-upgrade diri menjadi sosok guru profesional. Para guru akan mendapatkan pengetahuan tentang kurikulum satuan pendidikan yang harus tersedia di masing-masing sekolah. Implementasinya setiap sekolah akan menyusun kurikulumnya meskipun tidak diharamkan untuk mengadopsi dari sekolah lain, asalkan dilakukan dengan cara-cara yang jujur dan bertanggungjawab.
Pemahaman kurikulum sekolah menjadi lebih maksimal bila dilakukan sharing dengan sekolah lain dengan konteks yang hampir sama, meskipun sekolah tersebut tidak berada dalam satu wilayah geografis. Untuk mendukung hal tersebut BERMUTU juga melatih para guru untuk mengenal ITC (informatika tecnology comunication). Melalui perangkat elektronik tersebut guru juga dapat mengakses sejumlah informasi yang berasal dari lintas wilayah. Informasi yang diperoleh tidak saja terkait denngan proses pembelajaran, tetapi juga tentang pengembangan diri guru secara berkelanjutan. Guru tidak lagi memiliki ketergantungan terhadap Kepala Sekolah atau Pengawas yang sering memberikan pembinaan dengan materi-materi yang baru, karena materi terbaru dapat dicari dengan mudah melalui ketrampilan ITC yang telah dimiliki.
Teknologi informasi selanjutnya menjadi sarana untuk memperoleh informasi secara langsung dari sumber-sumber yang kompeten. Dalam hal tersebut informasi tidak diterima secara apa adanya, tetapi dipahami, ditelaah secara kritis, sehingga informasi yang diperoleh dapat dilaksankan tanpa kesalahan. Modal tersebut diperoleh melalui materi Kajian Kritis dalam kegiatan BERMUTU.
Guru-guru yang sudah memiliki bekal keilmuan dan strategi dalam pembelajaran, memiliki nalar yang kritis, memanfaatkan akses informasi, selanjutnya dilatih untuk menemukan konsep pembelajaran yang sesuai dengan kondisi peserta didik. Dalam  BERMUTU juga menyediakan pelatihan Penelitian Tindakan Kelas. Melalui Penelitian Tindakan Kelas guru dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapi dalam kelasnya dengan solusi yang tepat. Hasil penelitian tindakan kelas tersebut bila dikumpulkan akan menjadi referensi teknik dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi di dalam kelas.

Sekumpulan metode pembelajaran yang telah teruji tersebut akan menjadi pengalaman terbaik seorang guru, yang dalam BERMUTU diistilahkan dengan “Best Practice”. Tentu saja Best Practice ini harus disebarluaskan melalui seminar, sehingga kelemahan yang mungkin masih ada dapat disempurnakan dengan melibatkan para guru dalam jumlah yang lebih banyak lagi. Maka jadilan konsep matang yang siap disimpan untuk dimanfaatkan sewaktu-waktu.
Kajian Kritis Guru  BERMUTU
Berdasarkan paparan di atas, menyarankan adanya proses perubahan paradigma kompetensi dan performansi guru dalam proses pembelajaran.  Perubahan tersebut didasarkan atas banyaknya tampilan masyarakat yang nyata nyata belum menunjukkan indikator bangsa yang bermartabat. Padahal salah satu arah yang ditempuh dari pendidikan di Indonesia adalah bangsa yang bermartabat. Guru masih tetap memiliki tantangan besar, yaitu mengubah ketidakbermartabatan suatu bangsa menjadi bangsa yang bermartabat.
Mengubah bangsa yang tidak bermartabat menjadi bermartabat merupakan sebuah pekerjaan besar yang harus dilakukan. Sebuah pekerjaan besar yang tanpa dimulai pasti tidak akan selesai. Sebaliknya bila dimulai, dilakukan secara konsisten dan terus menerus pasti akan membawa hasil. Hal tersebut dapat diibaratkan dengan fenomena membangun gedung bertingkat, meskipun membangun gedung bertingkat lebih mudah dibandingkan membangun sebuah bangsa.
Gedung bertingkat berapapun pada awalnya dibangun dari pondasi melalui tangan-tangan trampil para tukang bangunan. Tukang bangunan memiliki tangan yang jumlahnya dua, sama dengan jumlah tangan yang dimiliki tiap-tiap bangsa Indonesia. Tukang bangunan menata batu merah pun diambil satu persatu, mengambil perekat batu merah pun dengan satu takar alat yang ukurannya kurang dari besarnya batu merah. Karena pekerjaan itu dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan akhirnya pun berdiri sebuah gedung yang megah, bertingkat, enak untuk dihuni dan dinikmati.
Proses-proses tersebut harus dilakukan dengan penuh semangat kebangsaan dan keikhlasan, sehingga setiap tantangan yang muncul dianggap sebagai angin lalu saja. Pekerjaan yang dilakukan harus disertai kesungguhan, keuletan, kesabaran, tanpa pamrih. Hanya dengan strategi kesungguhan, keikhlasan saja lah yang akan membawa hasil yang maksimal. Adapun hasilnya, biarlah zaman yang akan mencatatnya dalam sejarah, zaman juga lah yang akan bercerita kepada para anak cucu, betapa para guru pada masa lampau demikian gigih ingin mengubah kehidupan bangsanya menjadi lebih bermartabat dengan perjuangan yang berat. Perjuangan yang telah dilakukan para guru akan menjadi prasasti yang akan terus selalu dikenang anak cucu.
Oleh karena itu,   staring poin yang telah diberikan pemerintah dalam bentuk program BERMUTU hendaknya dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Meskipun tidak setetes air pun dapat diteguk dari program BERMUTU, anggap saja sebuah proses pencarian jatidiri dalam tataran keilmuan yang lebih tinggi tetapi tidak mengeluarkan modal finansial. Melalui BERMUTU akan dicapai kompetensi yang maksimal sebagai bekal mendidik anak bangsa menjadi penerus generasi yang bermartabat. Semoga Sukses!
DAFTAR PUSTAKA
1.      M.Hasri.2009.Kajian Kritis .Depdiknas
2.      Nur Ali.2010.Gusdur Bermutu ( Kajian Kritis ). Dinas Pendidikan.Jatim
3.      Martha Kaufeldt.2008.Wahai Para Guru Ubahlah Cara Mengajarmu.PT Indeks.Jakarta
4.      Paul Ginnis.2008.Trik dan Taktik Mengajar.PT Indeks.Jakarta
5.      Lou Anne Johnson.2008.Pengajaran Yang Kreatif dan Menarik.PT Indeks.Jakarta
6.      Materi Paparan MGMP Bermutu cluster 4 Ajibarang .

Tidak ada komentar:

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service