Ingin Jadi Agen Pusla ?....Klik di Sini !

Hallooo....Kawan Selamat Datang di Blog Kami!

SCRIPT CHATTING DI SINI
[+] [x]
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan-Kebahasaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan-Kebahasaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 September 2010

Penumpang Melonjak


Setelah saya renungkan sekian lama sesudah Lebaran ini berlalu, ternyata berita-berita tentang mudik telah menipu saya, terutama mengenai penumpang bus di terminal dan kereta api di stasiun.

Hampir semua berita yang disiarkan surat kabar, televisi, dan radio bahkan berita daring (dalam jaringan = online) di internet, sangat sering menggunakan kata "melonjak" dan "menumpuk". Setiap tahun ketika masanya orang mudik Lebaran istilah ini sangat populer.

Para wartawan mengatakan penumpang bus di terminal Pulogadung pada H-3 melonjak 10 persen dibanding tahun yang lalu. Tiap tahun penumpang itu melonjak 10 persen, artinya tahun yang lalu penumpang itu melonjak 10 persen dan tahun ini pun melonjak 10 persen lagi dibandingkan dari tahun yang lalu. Bisa dibayangkan, setiap tahun penumpang yang mudik Lebaran itu melonjak makin tinggi saja. Untuk apa mereka melonjak?

Kamis, 26 Agustus 2010

Serba-Serbi Pendidikan : Penggunaan Akronim

SEMEN CIBINONG

Tuan dan puan yang terhormat, maafkan saya. Coret-coretan saya ini bukan untuk memperkenalkan iklan pabrik semen atau untuk menyoroti masalah yang tabu dibicarakan. “Semen cibinong” yang saya bicarakan ini hanyalah sebuah akronim yang muncul dari kreativitas orang awam yang mungkin sekali kekurangan perbendaharaan kata-kata dalam bahasa Indonesia.
Akronim lazimnya dibuat untuk menghemat ruang dan waktu terutama dalam bahasa tulisan. Yang paling banyak menggunakan akronim menurut amatan saya adalah lembaga pemerintah seperti Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian.
Pada awalnya akronim dibuat untuk kalangan sendiri dan biasanya untuk menyingkat nama instansi atau istilah kepangkatan yang dianggap terlalu panjang untuk ditulis atau diucapkan. Di TNI belakangan muncul “alutsista” yakni singkatan dari “alat utama sistem persenjataan”.
Di lembaga Kepolisian akronim itu tak terhitung banyaknya, dan ketika seorang jenderal polisi berbintang tiga, Komjen Susno Duadji, membongkar kasus mafia hukum dan korupsi uang pajak di tubuh Polri, orang awam pun terbengong-bengong membaca “Bareskrim”. Kedengarannya aneh, seakan-akan polisi jualan es krim.
Sebenarnya akronim sudah dikenal sebelum itu, dan yang paling getol bikin akronim adalah Presiden Pertama RI Bung Karno. Contohnya, Manipol USDEK (Manifesto politik USDEK), dan Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), Ganefo (Games of the New Emerging Forces), dan Jas Merah (Jangan sekali-kali melupakan sejaah). Masih banyak yang lain.
Akronim semakin ganas melanda Indonesia tetapi juga menjadi trendi, dan bahkan setiap orang menjadi keranjingan bikin akronim. Anehnya, hampir setiap kata dalam bahasa Indonesia adalah akronim. Sekadar untuk lucu-lucu, kata “sedap” dipakai sebagai akronim dari “sejengkal di atas pusat”. Sebenarnya yang dimaksud adalah payudara perempuan. Lebih vulgar lagi jika “sedap” diberi kepanjangan “sejengkal di atas paha”. Anda tahulah maksudnya apa itu.

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service